SEORANG BALITA LUPA ARAH JALAN PULANG
Ketika sore hari banyak orang berburu makanan takjil untuk berbuka, ada seorang bocah balita laki-laki terlihat berjalan bolak balik dengan wajah bingung di sekitaran Musholla Baburrohmah di RT.12 RW.009 Kelurahan Menteng Atas Setia Budi Jakarta Selatan. Ini terjadi pada hari Jumat 23 April 2021 sekitar pukul 16.30 sore.
Seorang warga yang tinggal dekat dengan musholla yang bernama Pak Fariz bersama Pak Supardi melihat bocah ini merasa ada hal yang aneh. Mereka merasa belum pernah melihat bocah ini, sebelumnya dan juga tidak hafal betul dengan anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Sehingga Pak Fariz menghampiri anak tersebut dan menanyainya. Anak tersebut mengaku bernama Reza dan ibunya bernama Tati, namun tidak tahu alamat tinggalnya. Pak Fariz dan Pak Supardi juga tidak mengenal nama ibu tersebut, sehingga berinisiatif menyebarkan foto bocah ini di group media social warga setempat.
Tidak selang beberapa lama si ibu datang dan menghampiri anaknya ini dan mengajaknya pulang. Si ibu rupanya tinggal tidak terlalu jauh, namun karena permukiman di Jakarta banyak gang sempit membuat si bocah ini tidak hafal jalan pulang ke rumah Dari cerita ibunya, bocah ini tadi datang bersama ibunya untuk berbelanja takjil. Namun setelah si ibu mendapat dan menenteng barang belanjaannya, ia berjalan pulang dan lupa menggandeng anaknya.😃😃Darmadi
BERKAH BULAN RAMADHAN BAGI PENJUAL JAJANAN TAKJIL
Ketika bulan Ramadhan tiba, banyak masyarakat khusunya yang beragama muslim dari berbagai kalangan ekonomi menyambutnya dengan gembira, termasuk kelompok pedagang kecil yang menjajakan panganan takjil. Seperti yang terjadi di sepanjang Jalam Minangkabau Dalam, Menteng Atas Jakarta Selatan. Pedagang menjajakan berbagai jenis makanan dan minuman segar untuk berbuka puasa. Ada makanan olahan yang digoreng, direbus atau dikukus, maupun yang dipanggang dan tidak ketinggalan berbagai jenis bubur.
Berbagai jenis minuman terutama yang manis baik yang hangat apalagi yang dingin dengan warna warni juga ditata menarik baik di atas meja maupun di dalam etalase kaca bisa dibeli dengan harga yang sangat terjangkau. Berbagai jenis panganan bisa dibeli dengan harga satuan antara 2.000 rupiah hingga 5.000. Sedangkan minuman dengan harga 5.000 an rupiah.
“Harga murah, terjangkaulah buat kita yang isi kantongnya tidak banyak, bisa untuk makanan pembuka saat berbuka’’ kata seorang ibu-ibu yang sedang mengantri untuk membeli. Namun agak beda dengan yang diutarakan oleh
pedagang. “Dua ramadhan terakhir ini beda, tidak seperti ramadhan yang dulu dulu, kalau dulu belinya pada banyak-banyak kadang untuk sedekah di masjid
“Harga murah, terjangkaulah buat kita yang isi kantongnya tidak banyak, bisa untuk makanan pembuka saat berbuka’’ kata seorang ibu-ibu yang sedang mengantri untuk membeli. Namun agak beda dengan yang diutarakan oleh
pedagang. “Dua ramadhan terakhir ini beda, tidak seperti ramadhan yang dulu dulu, kalau dulu belinya pada banyak-banyak kadang untuk sedekah di masjid
untuk buka bersama, kalau sekarang belinya sedikit untuk keluarga di rumahnya saja”. Hal ini dikeluhkan oleh seorang pedagang yang bernama Bu Yoyoh, yang sore itu menjual berbagai jenis gorengan.
Kerumunan ini kadang membuat kemacetan, jalan yang merupakan akses ke SMA 43 Jakarta tidak terlalu lebar apa lagi kalau ada mobil yang melintas. Mobil
tidak bisa leluasa melintas karena jalannya tidak lebar. Di belakang mobil akan banyak pegendara motor yang berderet sampai panjang. Meskipun demikian, kondisi ini terus dan akan terus terjadi dan menunjukkan geliat perekonomian warga sekitar, karena terjadi perputaran uang entah seberapa banyak.
Kerumunan ini kadang membuat kemacetan, jalan yang merupakan akses ke SMA 43 Jakarta tidak terlalu lebar apa lagi kalau ada mobil yang melintas. Mobil
tidak bisa leluasa melintas karena jalannya tidak lebar. Di belakang mobil akan banyak pegendara motor yang berderet sampai panjang. Meskipun demikian, kondisi ini terus dan akan terus terjadi dan menunjukkan geliat perekonomian warga sekitar, karena terjadi perputaran uang entah seberapa banyak.
ALIRAN AIR PDAM KE RUMAH-RUMAH MATI DI MENTENG ATAS
Waktu sore hari Sabtu 24 April 2021 beberapa warga RT.14 dan RT. 15 RW,009 Kelurahan Menteng Atas mengambil air dari rumah Pak Ketua RW, dengan menggunakan ember, tabung galon dan wadah lain yang bias untuk menampung air. Mereka menunggu bergantian mendapat kucuran air dari selang yang dialirkan dari salah satu kran air di bagian depan rumah Pak RW, dan memang hanya tersedia satu kran di bagian depan rumah. Mereka sambil mengeluhkan aliran air dari PDAM di rumahnya mati. “Iya, sudah dari tadi siang tidak punya air, kita jadinya tidak bias mandi dan repot mau urusan ke kamar mandi” kata Ibu Mila, salah satu warga RT 13.”Kalau mati lampu sih, kita tidak terlalu repot, tapi kalau yang mati aliran air, kita lebih repot”, sahut seorang ibu lainnya. “Iya, alhamdulillah ini Pak RW kasih air” sahut Bu Dewi. Matinya aliran air PDAM ini juga diinfokan oleh pihak PALYJA karena ada perbaikan kebocoran pipa ukuran 800 mm di Jl. Kendal Jakarta Pusat, dimana aktifitas ini memutus aliran air ke beberapa wilayah yaitu Menteng Atas, Pasar Manggis, Pegangsaan, Guntur, Cikini, Manggarai dan sekitarnya sejak Hari Sabtu, 24 April 2021 pukul 12.50 siang hingga saat warta ini dikirim.

Posting Komentar